Senin, 27 Desember 2010

HIKMAH DARI SANG BUNDA

Pagi itu sangat dingin, udara bak menyengat lewat pori kulit. Tulang terasa berat, sendi masih kaku bergerak. Suasana pun terasa sunyi sekitar kota. Hanya terlihat beberapa lelaki tua siap mengayuh becak hendak mengantar ibu-ibu ke pasar tradisional. Beberapa pedagang juga mulai terlihat mengangkut dagangannya menuju pasar.

Diva, seorang mahasiswi pun merasa hal yang sama. Dingin itu begitu dinikmatinya di dalam kamar ukuran tiga kali tiga. Ditariknya selimut dan dibalutnya erat ke sekujur badan dan diapit di lingkaran lehernya. Seolah ia tak mau lepas dari hangatnya kamar, ia tak ingin bangun dari kasur empuk sejak subuh tadi. Apalagi suasana liburan di kampus.

“tring…tring..triingg..” suara hapenya diiringi getaran.
“uuuhh….siapa sih ganggu orang tidur aja,” dengan muka kusut ia bergumam pelan.

Malu-malu Diva menjulurkan tangan dari selimut. Udara luar terasa dingin namun tangannya berhasil mencapai ponselnya.

“iya, assalamu’alaikum”
“wa’alaikumsalam…Diva, ini mama,” terdengar dari ponselnya.

Ternyata ibunya Diva yang menelepon.

“Ada apa, Ma ? ganggu Diva tidur aja,” tanya Diva.
“Kamu selalu begitu, Div. Dari kemaren-kemaren bawaannya marah terus sama mama. Diva ga kangen ya sama mama?” tanya mama.
“Ihh..mama selalu bilang gitu. Iya, Diva kangen semuanya.” Jawab Diva murung.
“Terus kalau kangen, kenapa ga pulang libur ini? Mama udah kangen Diva. Rasanya ada yang kurang liburan ini tanpa Diva. Ayolah, Nak pulang ya ,” harap ibunya.
“Hm, mama kan aku udah bilang aku masih ada kegiatan di kampus masa libur ini. Mungkin aku telat pulangnya, itu pun kalau sempat pulang,” jelas Diva.
“Jadi Diva lebih mentingin kegiatan di kampus ya ketimbang mamanya?” balas mamanya.
“Bukan gitu ma, tapi…tapi…”
“Tapi apa? Ayolah nak, mama kangeeen banget. Udah hampir setahun ga jumpa Diva.” potong ibunya.
“Tapi ma, aku udah mengemban amanah ini. Sayang banget ditinggalin. Apa kata temanku nanti kalau sampai ga jadi.” Diva cari celah.
“Ya udah kalau gitu, padahal mama lagi sakit ni. Ntar Diva jangan nyesal ya? Baik-baik di sana. Assalamu’alaikum..” ibunya mengalah.
“Wa’alaikumsalam…makasih, Ma..” balas Diva.

Diva pun menutup telepon dengan gembira. Namun, perkataan ibunya selalu terngiang, hingga mengganggu ketenangan hatinya. Perasaan itu terus mengganggu batin Diva.
“Mama lagi sakit? Terus mama bilang jangan nyesal, maksudnya apa ya?” Diva masih belum paham.

Semakin lama ia larut dengan kata-kata itu, Diva pun bertindak. Masalah kegiatan di kampus tidak dipikirkannya lagi. Dia berencana pulang ke kampung halamannya di Sidikalang. Sengaja ia tak beritahu ibunya, hendak memberikan kejutan.
Hari itu Sabtu pagi, ia bergegas menuju Bandara Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh. Dengan cepat, ia memperoleh tiket pesawat menuju Bandara Polonia Medan. Siang itu, barulah ia tiba di tujuan, namun segera ia ambil bis menuju Sidikalang.

*******

Empat jam berselang, Diva telah sampai di kampung halamannya, Sidikalang. Malam itu ia langsung menuju rumahnya. Sepi sekali di sana, tak ada orang di jalanan. Mungkin warga sekitar banyak yang pergi liburan atau mungkin suhu malam yang sangat dingin di daerah itu. Maklum di pegunungan dan banyak pepohonan. Apalagi di rumah Diva tinggal ibunya seorang. Ayahnya tugas keluar kota dan kakaknya sudah menikah.
“Assalamu’alaikum…” sapa Diva sembari mengetuk pintu.
“Wa’alaikumsalam…” jawaban dari rumah dan pintuu dibuka.
“Waaahh, kamu akhirnya datang, Nak. Mama kangen banget sama kamu, Nak. Hati mama jadi tenang sekarang.” sambut sang bunda.
“Iya ma, Diva kepikiran terus kata-kata mama,” balasnya.
“Ya udah, kamu makan dulu, terus tidur ya, kamu pasti capek,” saran ibunya.

Segera Diva menuju dapur dan makan. Sejenak mengobrol dengan ibunya melepas kerinduan, lalu Diva pun ke kamar untuk tidur.

*******

(Minggu pagi)
“Ma, katanya mama sakit. Tapi kok sepertinya sehat gini?”tanya Diva.
“Iya, mama udah sembuh setelah kamu pulang.” Jawab ibunya.
“Ahh…mama pasti bohong. Kalau tau gini mending Diva ga pulang aja kemarin. Huuuh…” kata Diva dengan nada yang agak tinggi.

Tiba-tiba Minggu pagi itu, sekitar pukul 06.15 terjadi gempa yang lumayan kuat getarannya. Diva terdiam sejenak. Dia menganggap itu hal biasa dan bukan karena perkataannya tadi kepada sang ibu. Tak ada rasa bersalah di hatinya.

Sekitar jam 10.00 Diva menyetel televisi. Tiba-tiba Diva merasa bersalah dan meneteskan air mata. Dan isak tangisnya pun tak tertahankan lagi. Dia langsung menghampiri ibunya yang sedang memasak di dapur. Dipeluknya sang bunda dengan erat dan lebih erat. Dia memohon maaf dengan sangat. Kini dia mengerti arti pentingnya patuh dan menghormati orang tua, terutama ibunya. Diva bertekad untuk lebih memberikan cintanya pada keluarga, khususnya sang bunda.
ACEH, 26 DESEMBER 2004…

(SELESAI)

**************************

Coba seandainya Diva tetap tinggal di Aceh, mungkin dia menjadi salah satu korban keganasan alam. (Udah tau kan di balik tanggal 26 Desember 2004???)
Ya, sudah sepantasnya dan menjadi kewajiban bagi setiap insan untuk patuh dan taat kepada orang tua. Janganlah sampai ucapan kata lebih tinggi dari mereka dan jangan pula kita menentang keduanya selagi tidak melanggar perintah Allah. Dan hendaklah kita dulukan hak dan perintah orang tua dari paada keinginan ego kita. Dan berbakti kepada ibu lebih diutamakan daripada ayah.

“Dan Tuhan-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antaran keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmua, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” “Dan rendahkanlah dirimu kepada keduanya dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah. ‘wahai Tuhan-ku, kasihanilah mereka keduanya, sebagai mana mereka berdua telah mendidik aku sewaktu kecil” (Q.S. Al-Isra’ : 23-24)

Sabda Nabi :
"Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw lalu dia bertanya, "Siapakah orang yang paling berhak dengan kebaktianku?" Jawab Rasulullah saw, "Ibumu!" dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" beliau menjawab: "Ibumu!" dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" beliau menjawab: "Kemudian Ibumu!" dia bertanya lagi; "Kemudian siapa?" dijawab: "Kemudian bapakmu!" (HR. Muslim no 4621)

*********************

Mengenang peristiwa tsunami Aceh dan Hari Ibu (bagi sebagian orang)....

2 komentar:

bunbun mengatakan...

mampir pul..
tambah lgi widgetnya biar lebih menarik.
keep posting !!!

Rizky Andrinug (Andri) mengatakan...

Yeah! yeah!
Satu lagi temen yang ketularan bikin blog.
Lanjutkan Pul...